| Bagaimana Entrepreneurship Dapat Mengubah Kehidupan | Views :4351 Times |
| Selasa, 08 Februari 2011 14:22 (dikutip kembali sesuai aslinya) |
| Dengan
Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), Dr. Ir. Ciputra
memasukkan kurikulum dalam sekolah-sekolah dasar dan menengah dan mulai
mengenalkan entrepreneurship kepada semua orang. Di tahun 2001, ia menyadari bahwa jika kemampuan entrepreneurship bisa membebaskannya dari kemiskinan, kemampuan itu juga harus dibagikan untuk memperbaiki dunia. Tantangan pertamanya ialah meyakinkan bangsa Indonesia dan para pembuat kebijakan untuk percaya terhadap entrepreneurship, meraih momentum dan meningkatkan potensi yang ada dalam tataran nasional. Langkah pertama Dr. Ir. Ciputra ialah dengan berinvestasi sebesar 10 juta dollar AS untuk mendirikan Universitas Ciputra (University of Ciputra) di tahun 2006 yang memperkenalkan entrepreneurship/ kewirausahaan sebagai tema utama untuk semua mahasiswa, tanpa memandang jurusan yang mereka tekuni. Dalam angkatan pertama Universitas Ciputra, dari 166 lulusan dihasilkan 100 orang yang telah memulai menjalankan bisnis mereka sendiri, separuh di antaranya ialah mahasiswi. Setelah keberhasilan ini, ia memahami bahwa entrepreneurship untuk bangsa berarti entrepreneurship dalam sistem pendidikan dari usia dini. Dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship center (UCEC), ia menyertakan kurikulum entrepreneurship dalam sekolah-sekolah dasar dan lanjutan dan memulai usaha memperkenalkan entrepreneurship ke semua orang. Untuk dapat mencapai skala tersebut, ia mengerti bahwa amat penting untuk melatih pendidik dan pelatih dengan prinsip-prinsip dan praktik entrepreneurship. Program ini penting untuk disebarluaskan ke seluruh 17.000 pulau di seluruh Indonesia untuk menjangkau sebanyak mungkin penduduk Indonesia. Di tahun 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara luas menyatakan persetujuannya terhadap pendekatan Dr. Ir. Ciputra dan seruannya untuk lebih banyak menerapkan pendidikan entrepreneurship. Ini kemudian memicu dilaksanakannya pendidikan entrepreneurship secara nasional. Pengalamannya selama lebih dari 50 tahun dalam dunia bisnis mengajarkannya bagaimana untuk bangkit dari kemiskinan untuk kemudian menghasilkan kekayaan dan kemakmuran. Ia menaksir terdapat kurang dari 1% entrepreneur dari jumlah populasi Indonesia yang berjumlah hampir 250 juta. Mereka tengah membangun perusahaan-perusahaan inovatif. Saat dibandingkan dengan persentase entrepreneur AS yang telah 13% dan Singapura yang 7%, angka ini jelas menunjukkan sebuah peluang luar biasa di masa datang. Ciputra hendak mengubah negeri ini dengan membantu mendorong, menciptakan, dan membimbing secara langsung 4 juta entrepreneur atau 2% dari jumlah penduduk Indonesia melalui program ini. Pandangan Dr. Ir. Ciputra mengenai tantangan utamanya:Menurut saya, semua orang yang menyebarkan entrepreneurship di Indonesia setuju bahwa tantangan utama yang dihadapi ialah pola pikir kita yang menghalangi kemajuan entrepreneurship di Indonesia. Di antara generasi muda, pola pikir utamanya ialah bahwa mereka belajar di sekolah untuk akhirnya menjadi pencari kerja daripada pencipta kerja. Sebenarnya hal ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional kita. Hal ini didukung oleh sebuah nilai budaya dalam sebagian besar anggota masyarakat bahwa menjadi seorang entrepreneur tidak sebaik menjadi pegawai terutama pegawai negeri. Contohnya dalam sebagian besar masyarakat Jawa, status paling terhormat diberikan kepada keluarga kerajaan, yang berikutnya ialah “Amtenar” yaitu pegawai negeri, dan yang terendah ialah para pengusaha dan pedagang. Keluhan inilah yang paling banyak dijumpai di kalangan mahasiswa. Mereka mengeluh karena mereka tidak direstui dan didukung oleh orang tua jika mereka ingin menjadi seorang entrepreneur. Menjadi seorang entrepreneur bisa menjadi sebuah aib bagi keluarga. Saran Dr. Ir. Ciputra tentang bagaimana untuk menaklukkan tantangan ini:Sebagai seorang entrepreneur, tentu saya sendiri harus yakin bahwa entrepreneurship bisa diajarkan. Maka dari itu kami membangun sekolah-sekolah dasar dan lanjutan (K-12 schools) dan Universitas Ciputra untuk satu tujuan, yaitu memberikan bukti yang sungguh-sungguh menyatakan bahwa entrepreneurship bisa diajarkan. Kami berhasil melakukannya berkat tim akademik kami. Kami menemukan bahwa masalah terbesar tidak hanya isi program Anda tetapi lebih kepada bagaimana Anda mengajarkannya. Kami pikir aspek pedagogis entrepreneurship merupakan kunci keberhasilan. Oleh sebab itu, kami ciptakan apa yang disebut dengan “Entrepreneurship Learning The Ciputra Way” dengan berdasarkan pada tujuh prinsip Ciputra Way dan alat komunikasi lainnya untuk mengajarkan masyarakat tentang entrepreneurship. Kami telah melaksanakan ratusan seminar dan lokakarya di banyak kota di Indonesia. Kami bekerjasama dengan berbagai mitra media untuk membantu kami menyebarkan gagasan pentingnya entrepreneurship untuk Indonesia. Sejauh ini kami telah meyakinkan hampir semua mitra media untuk bersama berbagi soal ini dan visi kami untuk membangun Indonesia melalui entrepreneurship. Kami percaya bahwa entrepreneurship akan memperkaya, melengkapi dan memberdayakan kami untuk mengurangi pengangguran, memberantas kemiskinan dan akhirnya mewujudkan kesejahteraan di tanah air kami tercinta Indonesia. Tiga strategi utama Dr. Ir. Ciputra untuk para filantropis untuk mendukung perkembangan usaha kecil di pasar negara berkembang:Pertama, strateginya ialah pendidikan entrepreneurship. Pendidikan ini akan mengubah pola pikir pemilik usaha kecil untuk mengadopsi pola pikir entrepreneurial. Tanpa pola pikir ini, mereka hanya akan terus menjadi pemilik usaha kecil. Saya yakin bahwa ada tiga sifat mendasar yang harus dimiliki para pemilik usaha kecil ini: pencipta kerja, pencetus inovasi dan pengambilan risiko yang terukur. Jika ketiga sifat ini dipelajari dengan cermat, saya yakin bahwa sebuah proses yang saya sebut ‘Quantum Leap’ (Lompatan Kuantum) tentang entrepreneurship akan membantu mereka melesat dari level mereka sekarang menuju tingkat yang lebih tinggi dalam dunia bisnis. Strategi kedua ialah bahwa kami harus menciptakan sebuah lingkungan kondusif untuk usaha kecil ini supaya dapat berkembang. Lingkungan ini akan memudahkan kesulitan-kesulitan yang dialami sebuah usaha yang baru berkembang. Ini juga bisa digunakan sebagai sebuah laboratorium yang menginspirasi entrepreneur untuk menerapkan ide, pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka pelajari dari pelatihan entrepreneurship. Lingkungan tersebut juga bisa menjadi sebuah tempat bagi mereka untuk mempelajari bagaimana perusahaan baru mereka bekerja atau bagaimana mereka mempelajari cara untuk meningkatkan perusahaan dengan cara yang sederhana. Pada tahap kedua ini kami bisa membantu dengan mendirikan pusat inkubator bisnis. Ketiga, kami harus membantu mereka dengan stimulus keuangan. Menarik untuk diamati bahwa banyak dari lulusan pelatihan entrepreneurship kami yang siap untuk terjun dalam pasar mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan dukungan dana lagi karena mereka mengetahui bagaimana untuk menghasilkan modal bagi bisnis barunya. Saya pikir saya memiliki kapabilitas yang sangat kuat untuk menciptakan nilai. Inilah mengapa bagi saya seorang entrepreneur ialah seseorang yang dapat mengubah sampah menjadi emas. Hal-hal yang akan menciptakan energi berkelanjutan untuk mewujudkan impian saya ialah motivasi dan tekad yang kuat, kerja kera dan percaya diri. Ketiganya jika digabungkan saya yakin bisa dianggap sebagai sebuah bakat entrepreneurial. (*/Terjemahan dari “How entrepreneurship can improve lives” oleh Sarah Lacy) |
De Mozi Maulana Art and Design Mosaic | Mozi Mosaic Etnik Nusantara Line : 081 8090 9896 0 www.mozimozaic.com - mozimozaic@gmail.com